Mungkin ini sudah menjadi watak dan karakter bangsa kita, yang selalu lambat dalam menangani masalah.
Kurang dari sebulan lagi Indonesia akan jadi tuan rumah SEA Games ke-XXVI. Tapi berbagai persiapan seperti venue, dan fasilitas lain termasuk peralatan bertanding hingga kini masih belum ada kesiapan secara penuh. Pantas jika sebagian orang meragukan akan kwalitas perhelatan olah raga se-Asia Tenggara itu, akan sukses secara keseluruhan.Pasalnya, hingga kini beberapa peralatan belum siap seperti peralatan untuk cabang olah raga panahan. Hingga saat ini masih tertahan di Singapura karena dana dari pemerintah untuk membayar peralatan tersebut belum juga turun.
Kemudiann bagaimana dengan sejumlah venue di Palembang yang hingga kini belum rampung. Meskipun Menpora Andi Malarangeng mengklaim persiapan disana telah mencapai 90 persen, tapi kenyataannya sebagian venue masih jauh dari tahap penyelesaian. Bahkan ada venue yang terpaksa dipindahkan kepulau jawa karena pembangunan disana masih jauh dari tahap selesai.
Bahkan mungkin boleh dibilang baru mencapai 1/3 nya saja. Seperti venue aquatic untuk cabor renang. Kemudian venue untuk perahu naga, sampai sekarang belum selesai sepenuhnya. Tempat duduk penonton belum seratus persen rampung. Selain itu, sarana seperti toilet penonton pun baru hanya ada dua yang selesai. Padahala jumlah penonton bisa mencapai ribuan.
Lalu seberapa jauh sebenarnya kesiapan negara kita untuk menyelenggarakan event lima tahunan terbesar se-ASEAN itu. ” Tidak perlu diundur, semua berjalan baik,” itulah yang dikatakan menpora Andi Malarangeng, saat diwawancara para wartawan di TV.
Kelihatannya, mereka tidak merasa resah sedikitpun jika nantinya bangunan venue banyak yang tidak selesai 100 persen, dan SEA Games terkesan asal-asalan.
Beberapa pihak seperti KONI palembang pernah Memprotes keterlambatan pembangunan dan telatnya kedatangan peralatan pertandingan. Tapi pemerintah dengan PD nya tetap menyatakan bahwa SEA Games akan berjalan baik bahkan menyatakan akan “sukses”.
Bagaimana bisa sukses, jika persiapannya sendiri terkesan asal-asalan. Bagaimana pendapat kalian, para pembaca?
Disisi lain, ketua harian INASOC sebagai panitia penyelenggara SEA Games, Rahmat Gobel mengatakan bahwa, event SEA Games itu adalah moment yang tepat untuk mempromosikan potensi daerah dan memajukan ekonomi rakyat.
Mungkin hal itu ada betulnya, manakala pengelolaan merchandise dan pernak pernik lainnya diserahkan kepada penduduk setempat, dan tidak diserahkan kepada para tengkulak ekonomi atau pengusaha yang egois ingin menguasai semuanya sendiri.
Ya secara real, hal itu memang bisa jadi. Event terbesar itu bisa menjadi ajang masyarakat mengembangkan ekonominya dan memperkenalkan produk hasil olahan tangan mereka kepada para pengunjung dari negara lain yang pasti datang. Tapi perlu diingat, event besar seperti ini biasanya menjadi mainan para pejabat dan pengusaha besar untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mempersempit ruang gerak ekonomi masyarakat.
Contohnya, mungkin mereka akan meminta warga untuk membuat oleh2 khas, tapi barang-barang itu tidak dijual langsung oleh warga tapi ditampung melalui salah satu organisasi dadakan yang dibentuk, semacam koperasi.
Dengan demikian warga tidak akan bisa menjual sendiri barang hasil kerajinannya kepada pembeli, karena harus ditampung di koperasi dengan harga jual yang murah kepada penampung. Sementara penampung akan menjual dengan harga yang mahal kepada pengunjung. Alhasil, si miskin tetaplah miskin, si kaya tetaplah kaya.
*maaf jarinya pegel, lain kali saya lanjutkan.







